Ina Ku Dana, Ama Ku Langi: Membaca Ulang Relasi Gender dalam Tradisi Spiritual Bima
"Ina Ku Dana, Ama ku langi " — kalimat ini selalu terdengar agung di telinga orang Bima. “Ayahku langit, ibuku bumi.” Sebuah metafora yang indah, filosofis, bahkan terdengar sangat puitis. Kalimat ini seakan-akan mewakili keseimbangan kosmis, menyandingkan laki-laki dan perempuan dalam harmoni yang seimbang antara yang tinggi dan yang menghidupi. Tapi mari kita jujur sebentar saja: apakah kenyataan sosial di Bima memang selaras dengan filosofi ini? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memuja filosofi ini layaknya puisi, tapi membiarkan ketidakadilan tumbuh di halaman rumah? Dalam ruang budaya, kalimat itu dibanggakan sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tua. Namun dalam praktik sosial, sering kali yang langit tetap dominan: tidak bisa dijangkau, selalu di atas, dan menjadi penentu arah. Sementara bumi — ibuku — tetap menjadi tempat berpijak, diinjak, dan dituntut untuk terus memberi, tanpa boleh bersuara lantang. Langit bicara, bumi mendengar. Lan...