Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perempuan

Tuhan Telah Berdosa (Good Has Sinned)

Gambar
Tuhan telah berdosa. Begitu bisik seseorang mahasiswa yang pernah di ajar ketika komunikasi lewat WA—ia bukan ateis, bukan pula pendosa kelas berat. Ia adalah salah satu yang resah dengan keadaan ini.  Ia bercerita tentang seorang korban kekerasan dan pelecehan seksual. Ia bercerita tentang seorang perempuan yang sedang menatap langit sambil menggigil, menahan sesak, menggenggam jilbabnya yang robek di tangan. Di matanya, Tuhan tampak lelah. Ia bertanya, “Kenapa pelakunya bukan orang pasar atau orang mabuk, melainkan ustaz yang mengajarkan ayat demi ayat, yang bibirnya penuh sabda cinta, tapi tangannya—setan?” Di NTB, khusunya di Pulau Lombok, di tengah semarak shalawat dan suara adzan, tubuh-tubuh perempuan dan anak-anak ditinggalkan dengan trauma yang sunyi. Lembaga pendidikan berbasis agama, yang diharapkan menjadi benteng moralitas, justru menjadi tempat paling gelap. Universitas Islam, pesantren megah, madrasah unggulan—semuanya berdiri di atas nama Tuhan. Tapi di ...

Ina Ku Dana, Ama Ku Langi: Membaca Ulang Relasi Gender dalam Tradisi Spiritual Bima

Gambar
  "Ina Ku Dana, Ama ku langi " — kalimat ini selalu terdengar agung di telinga orang Bima. “Ayahku langit, ibuku bumi.” Sebuah metafora yang indah, filosofis, bahkan terdengar sangat puitis. Kalimat ini seakan-akan mewakili keseimbangan kosmis, menyandingkan laki-laki dan perempuan dalam harmoni yang seimbang antara yang tinggi dan yang menghidupi. Tapi mari kita jujur sebentar saja: apakah kenyataan sosial di Bima memang selaras dengan filosofi ini? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memuja filosofi ini layaknya puisi, tapi membiarkan ketidakadilan tumbuh di halaman rumah? Dalam ruang budaya, kalimat itu dibanggakan sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tua. Namun dalam praktik sosial, sering kali yang langit tetap dominan: tidak bisa dijangkau, selalu di atas, dan menjadi penentu arah. Sementara bumi — ibuku — tetap menjadi tempat berpijak, diinjak, dan dituntut untuk terus memberi, tanpa boleh bersuara lantang. Langit bicara, bumi mendengar. Lan...