Postingan

Menampilkan postingan dengan label Agama

Tuhan Telah Berdosa (Good Has Sinned)

Gambar
Tuhan telah berdosa. Begitu bisik seseorang mahasiswa yang pernah di ajar ketika komunikasi lewat WA—ia bukan ateis, bukan pula pendosa kelas berat. Ia adalah salah satu yang resah dengan keadaan ini.  Ia bercerita tentang seorang korban kekerasan dan pelecehan seksual. Ia bercerita tentang seorang perempuan yang sedang menatap langit sambil menggigil, menahan sesak, menggenggam jilbabnya yang robek di tangan. Di matanya, Tuhan tampak lelah. Ia bertanya, “Kenapa pelakunya bukan orang pasar atau orang mabuk, melainkan ustaz yang mengajarkan ayat demi ayat, yang bibirnya penuh sabda cinta, tapi tangannya—setan?” Di NTB, khusunya di Pulau Lombok, di tengah semarak shalawat dan suara adzan, tubuh-tubuh perempuan dan anak-anak ditinggalkan dengan trauma yang sunyi. Lembaga pendidikan berbasis agama, yang diharapkan menjadi benteng moralitas, justru menjadi tempat paling gelap. Universitas Islam, pesantren megah, madrasah unggulan—semuanya berdiri di atas nama Tuhan. Tapi di ...

Membaca Ulang Fenomena Keagamaan Kita

Gambar
Entah sejak kapan agama berubah menjadi panggung, lengkap dengan tata lampu, kamera, dan penonton yang siap bertepuk tangan. Yang pasti, banyak dari kita kini menjalani agama seperti seorang aktor dalam sinetron panjang berjudul "Menuju Surga Lewat Feed Instagram". Sakralitas berubah jadi estetika. Spirit kitab suci berubah jadi kutipan status WhatsApp. Dan hidup beragama? Ah, cukup dijalankan asal terlihat, bukan dijalani karena sadar. Padahal, bila kita tengok isi kitab suci, dari Al-Qur'an, Alkitab, Weda hingga Tripitaka, semuanya mengajak manusia untuk hidup jujur, adil, rendah hati, dan bertanggung jawab. Tapi kini, seolah-olah kitab suci hanya berguna untuk dibacakan saat seremoni, dikutip saat orasi politik, atau jadi senjata untuk menyerang yang berbeda pandangan. Lalu kita bertanya-tanya, mengapa negeri ini sering gaduh soal agama? Mengapa kekerasan, pelecehan, bahkan pembunuhan bisa dilakukan atas nama iman? Jawabannya bisa jadi karena kita, sebagai ...

Membaca Ulang Relasi Perempuan dan Laki-Laki: Ketika Dunia Diatur oleh ‘Clon’

Gambar
Di era modern ini, perempuan duduk di kursi DPR, memimpin universitas, bahkan menggenggam jabatan strategis di kementerian. Tapi, apakah itu berarti perempuan telah benar-benar merdeka? Atau, jangan-jangan mereka hanya sedang memainkan peran dalam panggung peradaban yang sejak awal dibangun dari naskah laki-laki? Seperti sebuah boneka yang diberi dasi, perempuan hari ini memang tampak ‘berdaya’. Tapi kalau kita jujur membaca ulang panggung itu, peran-peran perempuan dalam sistem politik, pendidikan, bahkan agama sering kali tak lebih dari “male-clon” – perempuan yang dijadikan tiruan laki-laki agar bisa dianggap setara. Bukan menjadi dirinya sendiri, tapi menjadi perempuan dalam standar maskulin. Simone de Beauvoir pernah bilang, "One is not born, but rather becomes, a woman." Tapi hari ini, kita lebih sering melihat perempuan yang "berhasil" justru adalah mereka yang menjadi laki-laki—dalam logika, dalam kepemimpinan, dalam cara mereka mengelola kuasa. ...