Tuhan, Aku Lelah tapi Aku Butuh
Tuhan, sejujurnya aku lelah. Tapi anehnya, meski lelah, aku tetap datang pada-Mu, seakan-akan lelahku justru menuntunku ke pintu-Mu. Tidakkah ini kontradiksi? Di satu sisi aku ingin menyerah, di sisi lain aku malah semakin ingin bersandar pada-Mu. Bukankah ini lucu? Aku seperti orang yang mengeluh lapar sambil menolak makanan, lalu tetap duduk di meja makan karena tidak bisa hidup tanpa makanan itu sendiri. Para ulama sudah lama mengajarkan bahwa manusia memang makhluk lemah. Allah berfirman, “wa khuliqal insānu dha‘īfā” (QS. An-Nisa: 28) — manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Lemah itu bukan sekadar fisik, tapi juga batin, pikiran, dan kesadaran. Kita bisa kuat menahan beban kerja, tapi lemah menghadapi sepi. Kita bisa hebat menaklukkan dunia, tapi kalah oleh kesedihan kecil yang menggerogoti hati. Jadi, wajar jika manusia merasa lelah. Yang tidak wajar justru kalau manusia berpura-pura tidak lelah, menutup rapat kelemahannya dengan topeng senyum seolah-olah segalanya b...