Perempuan, Buruh, dan Ketahanan Pangan: Sebuah Refleksi dari Dapur Hingga Sawah
Di negeri agraris yang katanya subur makmur loh jinawi ini, ada satu sosok yang sering kali dipinggirkan dari narasi besar tentang ketahanan pangan: perempuan. Ya, perempuan—yang setiap hari berkutat dengan beras, sayur, minyak goreng, dan kadang-kadang utang warung. Sementara para pengambil kebijakan sibuk berdiskusi soal swasembada dan krisis pangan global, perempuan di desa dan kota memeras keringat agar dapur tetap ngebul, anak-anak bisa sarapan, dan suami bisa tetap punya energi untuk mencari nafkah (yang kadang malah nihil hasilnya). Ironisnya, mereka yang menjadi tulang punggung dalam urusan pangan justru tak pernah masuk dalam sorotan utama. Perempuan, terutama yang menjadi buruh tani, buruh pabrik makanan, dan buruh rumah tangga, kerap dianggap pelengkap penderita dalam drama panjang ketahanan pangan nasional. Dalam dokumen resmi negara, mereka mungkin disebut "kontributor," tapi dalam praktiknya, mereka cuma jadi catatan kaki yang tak pernah dibaca. Mari...