Perempuan Kok Tantrum?
Gambar Ilustrasi
“Perempuan kok tantrum?” Kalimat ini seringkali muncul dalam percakapan sehari-hari, entah diselipkan dengan nada bercanda atau sindiran serius. Tapi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan tantrum? Secara psikologis, tantrum adalah ledakan emosi yang tidak proporsional terhadap situasi yang dihadapi. Anak-anak biasanya tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini seolah ikut melekat pada sebagian perempuan dewasa di era modern?
Tantrum di sini tentu bukan dalam arti literal berguling di lantai seperti anak-anak. Bentuknya bisa lebih halus: marah di media sosial hanya karena tidak mendapat perhatian, ikut-ikutan tren hijrah hanya untuk branding personal, atau panik saat tidak bisa tampil sesuai standar fashion Islami ala selebgram. Menurut teori social comparison dari Leon Festinger, manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai tolok ukur harga diri. Nah, di sinilah letak persoalan: perempuan kadang lebih rentan menjadikan “penampilan” sebagai ladang perbandingan. Tidak heran, sedikit saja gesekan bisa berujung tantrum.
Lihatlah fenomena hijrah yang marak belakangan ini. Di satu sisi, ia merupakan langkah positif menuju kebaikan. Tetapi, tidak sedikit yang menjadikannya sekadar tren, mirip mode fashion. Hijab syar’i dipakai bukan karena kesadaran spiritual, melainkan karena ingin terlihat “lebih Islami” daripada teman sebaya. Seolah hijrah adalah kartu nama sosial: semakin panjang jilbabmu, semakin tinggi strata religiusmu. Bukankah aneh jika sesuatu yang sakral berubah jadi ajang gengsi? Tantrum pun muncul saat eksistensi diri tidak lagi diakui di lingkaran pergaulan hijrah. Pertanyaan skeptisnya: kalau hijrah hanya jadi gaya hidup, lalu di mana letak kedalaman iman?
Fenomena serupa terjadi dalam dunia pendidikan. Semakin banyak perempuan yang memilih jurusan atau sekolah tertentu bukan karena minat atau panggilan intelektual, tetapi semata karena status sosial. “Yang penting bisa bilang kuliah di kampus bergengsi,” begitu pikirnya. Padahal, menurut Pierre Bourdieu, pendidikan sering dijadikan modal simbolik untuk memperoleh pengakuan sosial. Tidak heran banyak mahasiswa perempuan yang setengah mati mengejar gelar, bukan demi ilmu, tetapi demi bisa menuliskan titel panjang di bio Instagram. Ironisnya, jika ada yang tidak sesuai ekspektasi, tantrum lagi. “Mengapa hidupku tidak sekeren hidup seleb kampus?” Pertanyaan yang lebih dalam: apakah pendidikan hanya sekadar panggung eksistensi?
Tak berhenti di situ. Tantrum juga hadir di ranah percintaan anak muda modern. Ada fenomena “cinta lebay” di mana hubungan sepasang muda-mudi dipamerkan habis-habisan di media sosial. Caption penuh kata-kata puitis, foto couple di setiap sudut kafe, bahkan ritual anniversary ala selebriti. Ketika hubungan kandas, drama panjang pun terjadi. Tangisan di status, sindiran di story, bahkan hujatan di thread Twitter. Menurut Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving, cinta sejati adalah seni yang membutuhkan kedewasaan, tanggung jawab, dan pengorbanan. Jika cinta hanya jadi konten, bukankah itu tanda kita sedang memelihara cinta yang rapuh? Lagi-lagi, tantrum menjadi pelarian saat ekspektasi percintaan tidak seindah drama Korea.
Gaya hidup perempuan modern pun tidak lepas dari sorotan. Banyak yang berusaha tampil ala lifestyle influencer: ngopi di kafe kekinian, liburan singkat demi feed Instagram, atau belanja barang branded padahal dompet megap-megap. Ada jurang yang lebar antara gaya hidup dan kondisi sosial-ekonomi. Akhirnya, utang paylater menumpuk, tapi gengsi tetap dijaga. Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah kebahagiaan memang harus dibeli dengan cicilan? Tantrum datang ketika kenyataan ekonomi menampar keras, sementara standar hidup masih dipaksakan mengikuti algoritma media sosial.
Fenomena ini sebetulnya menyingkap pertanyaan lebih mendasar: perempuan ingin apa, sebenarnya? Apakah ingin diakui karena keimanan, pendidikan, cinta, atau gaya hidup? Ataukah hanya ingin terlihat “lebih” dibanding perempuan lain? Menurut Simone de Beauvoir dalam *The Second Sex*, perempuan sering kali terjebak dalam posisi sebagai *the Other*, yaitu mengukur dirinya melalui kaca mata orang lain. Dalam konteks sekarang, ukuran itu bukan lagi patriarki semata, tetapi juga kompetisi sesama perempuan dalam panggung digital. Maka tak heran jika sedikit gesekan eksistensi saja bisa memicu tantrum kolektif.
Dan menariknya, ketika ada penjelasan, nasihat, atau masukan disampaikan, responnya sering kali jauh dari refleksi, malah defensif. “Iri ya?” kata sebagian. “Kalau ndak mampu bilang dong.” Atau yang lebih sinis, “Kok ngurusin banget kehidupan orang? Emang hidupmu udah paling baik?” Bahkan ada yang dengan nada tinggi menutup pintu dialog: “Semua orang punya cara pandang masing-masing, ndk sah repot urusin hidup orang!!” Kritik langsung ditafsirkan sebagai intervensi pribadi. Jangankan laki-laki, sesama perempuan pun ditolak ketika mencoba menasihati. Nanti dianggap sok suci, sok alim, sok paling ahli surga. “Udah booking surga ya?!”—begitulah sindiran yang sering keluar.
Lebih jauh, muncul juga pembelaan diri yang klasik: “Wajarlah kan kita perempuan.” “Wajarlah kan kita butuh perhatian.” “Wajarlah kan kita butuh disayang.” Wajarlah, wajarlah, hingga kata itu jadi tameng untuk membenarkan setiap perilaku. Padahal justru di balik pembelaan itu, tersimpan kegamangan eksistensial: ingin diakui tapi takut dikritik, ingin tampil tapi alergi arahan. Maka, wajar pula jika akhirnya kita bertanya balik dengan nada skeptis: apakah ini tentang kebebasan sejati, atau sekadar tantrum yang dibungkus alasan “wajar”?
Lebih jauh lagi, bila ada laki-laki contohnya seperti _*saya*_ yang mencoba memberi pandangan, malah disemprot dengan kok-kok yang melecehkan: “Laki-laki kok mulutnya lemes banget, kayak perempuan.” Atau, “Laki kok suka gosip, laki kok gitu, kok gini.” Jadi, mau siapa yang boleh bicara? Hanya diri sendiri? Kalau begitu, mengapa masih butuh pengakuan orang lain? Skeptisnya, jangan-jangan semua pembelaan itu hanya tameng agar tak perlu bercermin. Pada akhirnya, wajar atau tidaknya perilaku, tetap kembali pada satu hal: keberanian menerima kenyataan bahwa hidup bukan panggung pembenaran diri semata.
Namun, mari berhenti sejenak dan berpikir reflektif. Tantrum perempuan modern sebenarnya adalah cermin dari keresahan yang lebih dalam: kegelisahan mencari jati diri. Perempuan bukan hanya simbol mode, status, atau pasangan romantis. Ia adalah subjek yang punya akal, hati, dan peran besar dalam peradaban. Jika energi yang selama ini habis untuk drama eksistensi dialihkan menjadi energi untuk berkarya, alangkah indahnya wajah masyarakat kita.
Lalu, bagaimana agar perempuan tidak terjebak dalam siklus tantrum? Kuncinya adalah kesadaran diri. Agama telah memberi peta: inna akramakum ‘indallahi atqakum — yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukan yang paling modis, bukan yang paling kaya, bukan pula yang paling eksis di media sosial. Pendidikan pun semestinya dipandang sebagai jalan pencerdasan, bukan sekadar tangga status. Cinta perlu dikelola dengan dewasa, bukan dirayakan seperti festival likes. Dan gaya hidup seyogianya disesuaikan dengan kemampuan, bukan didikte algoritma.
Sebuah mahfudzoh dari Ulama:
“Al-mar’atu madrasatun idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”
(Perempuan adalah sekolah; jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang baik pula.)
Jadi, perempuan ideal bukanlah yang paling banyak tantrumnya, melainkan yang mampu menata diri, menyeimbangkan hati, dan mengendalikan emosi. Menjadi perempuan berarti menjadi teladan, bukan sekadar penonton yang sibuk mengejar sorak-sorai dunia maya. Pada akhirnya, keindahan perempuan tidak terletak pada seberapa banyak ia menarik perhatian, melainkan seberapa kuat ia menebar manfaat. Karena tantrum akan berlalu, tetapi keteguhan hati akan selalu abadi.
Komentar
Posting Komentar