Tuhan, Aku Lelah tapi Aku Butuh
Para ulama sudah lama mengajarkan bahwa manusia memang makhluk lemah. Allah berfirman, “wa khuliqal insānu dha‘īfā” (QS. An-Nisa: 28) — manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Lemah itu bukan sekadar fisik, tapi juga batin, pikiran, dan kesadaran. Kita bisa kuat menahan beban kerja, tapi lemah menghadapi sepi. Kita bisa hebat menaklukkan dunia, tapi kalah oleh kesedihan kecil yang menggerogoti hati. Jadi, wajar jika manusia merasa lelah. Yang tidak wajar justru kalau manusia berpura-pura tidak lelah, menutup rapat kelemahannya dengan topeng senyum seolah-olah segalanya baik-baik saja.
Namun, di sinilah sindiran hidup bekerja: kita sibuk mengejar dunia, padahal tahu dunia itu melelahkan. Kita seperti orang yang berlari di treadmill; keringat bercucuran, kaki pegal, tapi sejatinya tidak bergerak ke mana-mana. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang dengan dunia, karena dunia hanyalah bayangan sementara. Hati hanya akan tenang jika kembali kepada Allah. Bukankah itu benar? Kita capek mengejar karier, gelar, cinta, validasi, harta—tapi toh setelah tercapai pun ada rasa kosong yang tersisa. Jadi untuk apa semua ini?
Aku kadang ingin protes pada Tuhan: mengapa hidup harus serumit ini? Mengapa tidak sederhana saja? Kenapa manusia diberi akal untuk berpikir, tapi juga diberi hawa nafsu yang mengacaukan pikiran itu? Kenapa diberi cinta yang manis, tapi juga perpisahan yang pahit? Kalau hidup memang ujian, boleh tidak kalau aku minta soal ujiannya lebih mudah? Tapi bukankah pertanyaan semacam ini terdengar konyol? Sebab justru dari kesulitan itulah lahir makna. Seperti kata pepatah Arab, “Al-masyaqqatu tajlibut-taysīr” — kesulitan itu mendatangkan kemudahan. Tapi sungguh, ya Allah, siapa pun yang menciptakan pepatah ini mungkin sedang tidak dalam posisi yang benar-benar lelah ketika mengucapkannya.
Rasulullah SAW sendiri pernah mengajarkan doa, “Allahumma la sahla illa ma ja‘altahu sahlan, wa anta taj‘alu al-hazna idza syi’ta sahlan” — Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali Engkau menjadikannya mudah, dan Engkaulah yang bisa menjadikan kesedihan itu mudah jika Engkau kehendaki. Doa ini bukan sekadar bacaan, tapi sebuah pengakuan: manusia itu tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah. Kita bisa sok kuat di depan orang lain, tapi di hadapan Tuhan, semua topeng itu runtuh.
Namun, mari jujur sebentar. Kadang kita datang kepada Tuhan bukan karena cinta, tapi karena terpaksa. Kita mengingat-Nya saat sakit, saat gagal, saat ditolak, saat kehilangan. Ketika semua pintu dunia tertutup, barulah kita mengetuk pintu langit. Apakah ini tidak egois? Tentu egois. Tapi bukankah Allah Maha Pengasih? Bukankah Ia sudah tahu kelemahan kita jauh sebelum kita mengakuinya? Bukankah ini bagian dari rahmat-Nya? Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata, “Di balik setiap rasa lelah, ada pintu doa yang terbuka. Dan siapa yang mengetuknya, tidak akan pulang dengan tangan kosong.” Jadi meski egois, kita tetap datang, karena Tuhan tidak menutup pintu-Nya.
Lelah ini, kalau dipikir-pikir, bukan hanya tentang tubuh, tapi tentang jiwa. Kita lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah mengejar standar orang lain, lelah menampilkan wajah bahagia di depan kamera padahal hati hancur. Hidup modern, kata sebagian orang, semakin canggih. Tapi apakah benar semakin canggih membuat kita semakin bahagia? Justru mungkin semakin lelah. Kita dikelilingi teknologi yang menjanjikan efisiensi, tapi batin kita justru semakin sibuk, semakin resah. Apa benar semua ini kemajuan? Atau hanya ilusi?
Ada mahfudzoh lain yang menarik: “Man lam yaj‘alillāha fī qalbihi lam yajidissalāh fī syay’in.” — siapa yang tidak menempatkan Allah di dalam hatinya, ia tidak akan menemukan ketenangan dalam apa pun. Lelah kita sebenarnya bukan karena kerja, bukan karena masalah, tapi karena kita jauh dari sumber kekuatan itu sendiri. Kita mencari tenang pada hal-hal fana, padahal yang abadi justru menunggu kita kembali.
Tapi, izinkan aku bertanya serius: kalau memang Allah Maha Penolong, mengapa banyak orang berdoa tapi tetap sengsara? Kalau Allah Maha Adil, mengapa kezaliman masih merajalela? Bukankah doa orang miskin lebih dekat ke langit? Tapi mengapa mereka tetap lapar? Pertanyaan semacam ini sering datang dalam kepala. Namun ulama menjawab dengan bijak. Imam Asy-Syafi‘i berkata, “Doa itu seperti panah di malam hari. Ia tidak selalu tepat sasaran saat itu juga, tapi pasti ada saatnya mengenai.” Jadi mungkin yang kita sebut keterlambatan, sebenarnya adalah pengaturan waktu terbaik dari Allah.
Tuhan, aku lelah tapi aku butuh. Butuh apa? Butuh Engkau, tentu. Meski sering aku lupa, meski sering aku datang hanya ketika terpojok, tapi aku tahu di dalam lubuk hati terdalam, aku tidak bisa hidup tanpa-Mu. Lucunya, meskipun aku sering malas beribadah, aku tetap berharap Engkau mengabulkan doa. Bukankah ini munafik? Iya, mungkin. Tapi bukankah Engkau sendiri yang berfirman, “Ud‘ūnī astajib lakum” — berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan untukmu? Janji-Mu tidak pakai syarat kalau rajin salat baru dikabulkan, tapi Engkau membuka pintu seluas-luasnya.
Hidup ini melelahkan, ya Allah. Tapi bukankah di balik lelah ada cinta-Mu? Kata pepatah Arab lagi, “Man jadda wajada” — siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Maka mungkin lelah ini bukan hukuman, melainkan jalan. Jalan untuk lebih dekat, jalan untuk menemukan arti. Dan kalaupun aku jatuh berkali-kali, aku tahu Engkau tidak pernah bosan mengulurkan tangan.
Lalu, apa yang tersisa? Mungkin hanya kejujuran dalam doa: “Ya Allah, aku lelah. Tapi aku butuh Engkau.” Sesederhana itu. Tidak perlu retorika panjang, tidak perlu kalimat indah. Sebab Engkau tahu isi hatiku bahkan sebelum aku mengucapkannya.
Maka, biarlah lelah ini menjadi alasan untuk mendekat, bukan alasan untuk menjauh. Biarlah butuh ini menjadi jembatan, bukan sekadar tuntutan. Dan biarlah aku, dalam segala kelemahanku, tetap Engkau terima sebagai hamba-Mu.
Komentar
Posting Komentar